Laba – Laba

Laba-laba adalah arachnida predator serangga lain yang sebenarnya membantu mengendalikan populasi hama, namun kehadiran sarang dan jaringnya di rumah maupun gudang tetap mengganggu kebersihan dan estetika.

Biologi Laba – Laba

Uploader, CDC, CC BY-SA 3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0), via Wikimedia Commons
  • Laba-laba memiliki 8 kaki, tidak bersayap, serta mampu menghasilkan sutra untuk membuat jaring penangkap mangsa (tergantung spesies).
  • Sebagian besar spesies laba-laba di lingkungan rumah tidak berbahaya bagi manusia, meski beberapa spesies memiliki bisa untuk melumpuhkan mangsanya.
  • Benang sutra laba-laba, bila dibandingkan pada berat yang sama, dikenal memiliki kekuatan tarik yang sangat tinggi, bahkan sering disebut melebihi baja.

Lingkungan Hidup

Sudut ruangan, langit-langit, gudang, celah dinding luar, serta area taman dan tempat gelap yang jarang terganggu aktivitas manusia.

Siklus Hidup

  • Laba-laba betina meletakkan telur dalam kantung sutra (egg sac), yang kemudian menetas menjadi laba-laba muda (spiderling).
  • Laba-laba muda mengalami beberapa kali pergantian kulit (molting) karena eksoskeletonnya tidak dapat membesar mengikuti pertumbuhan tubuh, hingga mencapai ukuran dewasa.

Resiko Penyakit

Sebagian besar gigitan laba-laba hanya menimbulkan iritasi ringan, namun spesies tertentu yang berbisa kuat (jarang di lingkungan rumah Indonesia) dapat menimbulkan reaksi lebih serius.

Metode Pengendalian

Pengendalian laba-laba dilakukan melalui inspeksi menyeluruh untuk mengidentifikasi area aktivitas dan sumber makanan yang menarik keberadaannya. Treatment dapat meliputi pembersihan sarang dan jaring, aplikasi residual spraying, serta pengendalian serangga lain yang menjadi mangsanya. Dengan pendekatan yang terpadu, populasi laba-laba dapat dikurangi secara efektif dan risiko kemunculan kembali dapat diminimalkan.

Layanan Terkait

Scroll to Top